Baru-baru ini, Spotify terseret ke dalam krisis kepercayaan besar.
![]() |
| Image source: Getty Images – iStock Photo / Spotify |
Akar masalahnya muncul setelah Daniel Ek, CEO Spotify, menggelontorkan investasi sekitar €600 juta—atau setara 700 juta dolar AS—melalui Prima Materia, perusahaan investasinya, ke Helsing SE. Perusahaan teknologi pertahanan asal Jerman itu mengembangkan kecerdasan buatan untuk kepentingan militer, mulai dari drone tempur sampai sistem pengawasan.
Langkah Ek menuai protes keras dari banyak musisi. Mereka menolak musik mereka dikaitkan dengan teknologi militer. Tak sedikit yang memilih aksi nyata. King Gizzard & the Lizard Wizard, Deerhoof, Xiu Xiu, hingga Massive Attack menarik katalog mereka dari Spotify sebagai bentuk boikot. Mereka menuding Spotify dan Ek merusak batas antara musik dan industri militer yang sarat kontroversi, sambil menyoroti persoalan royalti yang selama ini dianggap tidak adil.
READ MORE: Seringai Hapus Lagu dari Spotify: Sikap Tegas Tolak Investasi Militer
Mengutip dari Swedenherald.com, Dennis Lyxzén, vokalis band hardcore Refused, tak segan mengkritik layanan streaming asal Swedia itu. “Sejak awal, Spotify sudah anti-budaya. Mereka memanfaatkan musisi yang sebenarnya tak punya banyak pilihan, lalu musisi terjebak dalam semacam utang budi yang aneh. Begitu Spotify mulai meraup untung, Daniel Ek malah memilih menanamkan uangnya di industri senjata, bukan di seni atau budaya. Menurut saya, itu benar-benar memalukan.”
Sementara itu, berdasarkan laporan Complexdiscovery.com, Ek mencoba membela investasinya. Ia menegaskan bahwa Helsing beroperasi di bawah standar etika ketat dan hanya menjual ke negara demokratis untuk melawan rezim otoriter. Tapi kritik tetap deras, terutama soal transparansi dan tanggung jawab sosial Ek sebagai CEO Spotify yang juga aktif berinvestasi di sektor sensitif seperti militer.
Tekanan boikot dan kritik yang terus bertambah akhirnya memaksa Ek mundur dari jabatan CEO Spotify pada Oktober 2025. Meski begitu, ia tetap bertahan sebagai Executive Chairman–seperti dikutip Detikcom.
Dampak boikot terasa nyata. King Gizzard & the Lizard Wizard mengajak penggemar pindah ke platform lain seperti Bandcamp. Deerhoof dan Xiu Xiu menyebut model bisnis Spotify sebagai bentuk eksploitasi data dan royalti. Massive Attack juga memutus dukungan mereka pada Spotify karena keterlibatan Ek di investasi militer. Boikot ini menyoroti ketegangan lama antara artis dan platform streaming soal cara musik mereka dimonetisasi dan diperlakukan.
Walau diterpa kontroversi, Spotify tetap memperkuat posisinya di pasar global. Perusahaan menaikkan harga langganan premium di sejumlah negara, termasuk Indonesia. CNBC Indonesia melaporkan, di Indonesia mulai Oktober 2025, harga langganan Premium naik dari Rp54.990 menjadi Rp59.900 per bulan. Spotify mengklaim ini bagian dari strategi memperbesar margin keuntungan dan mendorong ekspansi ke 1 miliar pengguna di masa depan. Kenaikan harga juga diiringi rencana peluncuran fitur dan layanan baru.
Di sisi lain, Spotify mulai mengambil langkah proaktif mendukung tata kelola royalti yang lebih adil dan transparan, terutama di Indonesia. SINDONews mencatat, pada Oktober 2025, Spotify menyatakan dukungan terhadap proposal pemerintah Indonesia: “The Indonesian Proposal for a Legally Binding Instrument on the Governance of Copyright Royalty in Digital Environment”. Proposal ini mendorong adanya instrumen hukum internasional untuk pengelolaan royalti hak cipta di era digital.
Dalam surat resmi kepada Menteri Hukum Indonesia, Spotify menegaskan komitmennya pada transparansi dan akuntabilitas dalam penghitungan serta distribusi royalti kepada seniman dan pemilik hak cipta. Spotify berharap bisa memperkuat kerja sama dengan pemerintah, demi menciptakan ekosistem musik yang lebih sehat dan adil bagi para pencipta dan pelaku industri kreatif.
Tags
NEWS
